Mencetak anak ideal lahir batin versi ibrahim as.

Dalam sebuah keluarga Anak diibaratkan seperti sebuah permata yang kedatangannya sangat ditunggu. Lahirnya anak merupakan anugerah terbesar sekaligus titipan Allah yang harus selalu dijaga dengan kasih dan sayang oleh orang tuanya. Dalam perkembangannya,  peran orang tua sangat diperlukan  dalam pembentukan karakter, mental, kreatifitas, kecerdasan, dll. yang suatu saat nanti akan tumbuh menjadi pribadi yang istimewa serta menjadi orang besar yang dikagumi banyak orang atau sebaliknya, tergantung orang tuanya/keluarganya yang akan membentuk kepribadian anak tersebut. Untuk itu perlu perhatian khusus dalam mendidiknya karena jika tidak, hal ini akan menimbulkan permasalahan atau memberikan suatu dampak negatif dikemudian hari disebabkan kurangnya perhatian keluarga terdekatnya. Seperti yang dilakukan nabi Ibrahim dalam mendidik putra-putranya sehingga salah satu mereka menjadi orang besar sekaligus  menjadi salah satu yang termasuk golongan dari orang-orang pilihan Allah (menjadi utusan/rasul), tidak berhenti disitu bahkan lagi cucu serta cicit-cicitnya menjadi orang besar yang dikenal banyak orang termasuk umat islam sepanjang masa. Hal ini sesuai dengan kabar gembira yang disampaikan malaikat jibril kepada nabi Ibrahim bahwasanya keturunannya akan menjadi orang besar. Apa yang diajarkan nabi Ibrahim kepada putra-putranya dapat kita jadikan panutan serta contoh yang baik untuk diterapkan dalam lingkungan keluarga serta pendidikan untuk anak-anak kita kelak. Bahkan  hal ini telah dijelaskan dalam alquran surat Al-baqarah ayat 131 dan 132 tentang wasiat nabi Ibrahim kepada anak-anaknya.

Dukungan keluarga dekat serta motivasi orang tua menambah semangat anak yang akan memicu terhadap perkembangan kreativitasnya. Hal ini amatlah penting, dalam teori tabula rasa bahwa anak di ibaratkan seperti kertas putih atau bening dan yang memberikan warna lain adalah keluarganya. Dari itu sangat jelaslah bahwa apapun yang berkaitan dengan tumbuh kembang anak merupakan hal yang harus diprioritaskan dalam proses pembentukan kepribadian. Melihat anak-anak yang setelah besar/dewasa  ia menjadi orang-orang besar yang sukses serta mampu menghafal alquran,dll. tentulah melihat hal itu hati orang tua manakah  yang tidak tergerak untuk menginginkan anaknya seperti itu. Untuk itu meneladani apa yang dilakukan beberapa orang tua dari anak-anak yang berhasil tersebut bisa dipraktikkan demi tumbuh kembang anak yang akan menjadi penerus  dan menjadi harapan bersama karena sesungguhnya masa depan negeri bahkan bangsa ini ada ditangan generasi muda selanjutnya.  Ada beberapa contoh profil anak-anak yang mungkin dapat kita contoh seperti Ismail putra nabi Ibrahim dengan ketulusannya dan kepatuhannya kepada orang tua, Gus Dur,  BJ. Habibi, Imam Abu A’la al-Maududi, dll. Dari beberapa contoh tersebut peran orang tua untuk membentuk kepribadian pada diri anak sangatlah penting serta beberapa poin-poin pentingnya dalam mendidiknya seperti yang dicontohkan pada anak-anak yang tersebut diatas tentu akan dibahas dalam pembahasan makalah ini. Dan selain itu ada beberapa tips khusus untuk mencetak anak ideal lahir batin serta bisa dikatakan Genius serta sukses, tentulah makalah ini akan membahasnya.

Read More

Ayat-Ayat Al-Quran tentang Pendidikan

  1. QS. al-Baqarah : 130-135

Seperti yang telah diketahui  bahwasanya Allah telah menjelaskan dalam ayat-ayat yang telah lalu tentang suatu ujian yang dialami oleh Nabi Ibrahim melalui sabda sabda-Nya . Dan secara sempurna nabi Ibrahim lulus dari ujian tesebut .Setelah itu Allah memerintahkan nabi Ibrahim untuk membangun Ka’bah (Baitullah)  juga termasuk membersihkannya (membserihkan Baitullah) sebagai tempat ibadah ummat muslim.  nabi ibrahim melaksanakan perintah tersebut dengan baik.  Kemudian Allah menjelaskan suatu lafad yang diserukan nabi ibrahim yaitu lafad Millah  yang artinya mengajak kepada Tauhid dan Islam (menyerahkan diri) kepada  Allah dalam melaksanakan suatu perbuatan . Bagi seseorang terutama orang yang berakal sehat tidaklah pantas bagi mereka untuk berpaling dari ajaran Allah (agama islam) kecuali bagi orang-orang yang memang sengaja menjerumuskan dirinya kedalam jurang kehinaan (yang termasuk orang-orang yang merugi) . Millah (agama) yang seperti inilah yang diwasiatkan oleh nabi Ya’qub kepada putra-putranya  seperti yang dilakukan oleh nabi Ibrahim kepada putra-putranya .

Dan Allah benar-benar menyanggah tuduhan orang-orang Yahudi kepada nabi Ibrahim tentang putranya Ya’qub bahwasanya Ya’qub adalah keturunan Yahudi. Lalu mereka ingkar kepada nabi Ibrahim akan janjinya untuk tidak akan menyembah selain kepada Tuhan yang Esa . Terdapat  salah satu riwayat yang menyebutkan tentang sebab turunnya ayat ini,  suatu hari Abdullah ibnu Salam mengundang putra-putra dari saudaranya yang bernama Salmah dan Muhajir untuk mengajaknya masuk agama Allah. Lalu Abdullah mengatakan kepada ponakannya “ Kalian berdua tentu sudah mengerti  bahwa Allah SWT. Telah berfirman dalam kitab Taurat yang berbunyi“ Sesungguhnya  Kami mengutus seorang anak ismail sebagai nabi yang bernama Ahmad. Barang siapa yang beriman kepadanya maka ia termasuk orang yang mendapat petunjuk ,begitu juga sebaliknya , kemudian Salmah menyatakan dirinya untuk memeluk agama Allah sedang saudaranya (Muhajir) tetap pada pendiriannya (tidak masuk islam).

  • QS.Al – Mumtahanah : 4

 Ayat ini menjelaskan tentang Perintah kepada para sahabat agar meneladani Ibrahim as. Dan sahabat-sahabatnya . Dalam penjelasannya , Sungguh Allah telah mengingkari persahabatan dengan orang-orang kafir dan menyebutkan penghalang-penghalang yang dapat mencegah mereka dari persahabatan tersebut. Alasannya karena apabila orang-orang kafir mendapatkan jalan untuk mengganggu mereka atau semacamnya baik itu dengan pikiran atau perkataan ,mereka  tentu tidak akan menghormati hubungan persaudaraan atau persahabatan dengan mereka (para sahabat dan Ibrahim), lalu dari sinilah Allah memperkuat keingkaran itu. 

Kemudian Allah memerintahkan kpada mereka(sahabat)  untuk meneladani Ibrahim dan para sahabat-sahabat ketika nabi Ibrahim dan sahabat-sahabatnya cuci tangan terhadap kaum mereka, memusuhinya seraya berkata kepada sahabat tersebut “ sesungguhnya kami berlepas dari padamu ”. Berkatalah Al -Farra “ Apakah engkau meneladani Ibrahim ketika dia berlepas diri dari keluarganya , wahai Hatib ? agar engkau tahu  bahwasanya cinta atau benci karena Allah adalah ikatan iman yang paling kokoh.

  1. Nilai-Nilai Pendidikan
  2. Mendidik anak  dengan Meneladani akhlak Nabi Ibrahim

Islam merupakan agama Allah yang diturunkan ke bumi melalui utusan-Nya. Nabi Ibrahim termasuk dalam salah satu dari utusan tersebut, yang salah satu risalahnya meliputi :

  1. Kepatuhan

Patuh berarti tunduk  dan nabi Ibrhim merupakan tokoh yang patuh terhadap ajaran Allah. Sebelum wafat, beliau mewasiatkan prinsip ajaran tersebut kepada anak cucunya (Ismail, Ishaq, Ya’qub dan saudara-saudaranya hingga anak cucunya) supaya mereka menyerakan diri kepada Allah, seperti yang telah disebutkan dalam surat al-Baqarah ayat 132. Ajaran ini (kepatuhan) merupakan salah satu millah beliau yang diajarkan supaya anak-anaknya tunduk patuh kepada Allah dengan tidak menyekutukannya dan supaya mereka ( putra-putra Ibrahim) menyerahkan diri kepada Allah hingga menutup mata (mereka meninggal).

  • Tidak tergesa-gesa (haliim)

Maksudnya nabi Ibrahim tidak ceroboh atau gegabah dalam memutuskan suatu perkara.

  • Lembut hati (awwah)

Nabi Ibrahim cepat merasakan kasihan terhadap kesedihan atau kesusahan yang menimpa orang lain.

  • Bertaubat dan kembali kepada Allah

Nabi Ibrahim sering melakukan introspeksi dan menyesali perbuatannya lalu memperbaiki diri.

Sebelum nabi Ibrahim wafat, beliau mengajarkan beberapa hal tentang akhlakul karimah ,dll kepada anak-anaknya. Anak merupakan titipan Tuhan yang harus dirawat dengan kasih dan sayang, karena anak merupakan generasi penerus serta masa depan bangsa dan dunia juga berada di tangan generasi kita. Seperti yang dilakukan oleh nabi Ibrahim tentang ajaran atau caranya mendidik putranya sangatlah layak untuk kita teladani . Ismail dan Ishaq merupakan anak nabi Ibrahim yang tentunya mereka juga meupakan manusia pilihan Allah. Kepatuhannya kepada Allah dan kelembutan hati serta akhlaknya ditiru oleh putra-putranya. Bagi para orang tua, untuk mendidik anak sangatlah tepat bila meniru akhlak nabi Ibrahim, yang Allah ceritakan dalam surat Ibrahim: 37- 41 dalam doanya nabi Ibrahim.

ربنا اني اسكنت من دريتي بواد غير دي زرع عند بيتك المحرم ربنا ليقيموا الصلوة فا جعل افءدة من النا س تهوي اليهم ورزقهم من الثمرت لعلهم يشكرون

 ربنا انك تعلم ما نخفي وما نعلن وما يخفى على الله من شيء في الارض ولا في السماء

الحمد لله الدي وهب لي على الكبر اسمعيل واسحق ان ربي لسميع الدعاء

رب اجعلني مقيم الصلوة ومن در يتي ربنا  وتقبل دعاء

ربنا اغفرلي ولوالدي وللمؤمنين يوم يقوم الحساب

Artinya : “ Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”. (QS. Ibrahim : 37)

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan, dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada dilangit”.(QS. Ibrahim : 38)

“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku dihari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa” (QS. Ibrahim : 39)

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, pekenankanlah do’a kami ”. (QS. Ibrahim : 40)

“ Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang mu’min pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”. (QS. Ibrahim :41)

                 Dari beberapa risalah yang nabi-nabi wariskan kepada putra-putrinya, Tentang hal ini Allah telah menyuruh kita untuk senantiasa mengikuti sunnah rosul atau apapun yang nabi-nabi lakukan karena hal itu mengandung nilai-nilai kebaikan. Dalam sura al-Mumtahanah ayat 4 disitu dijelaskan untuk meneladani sikap nabi Ibrahim, karena sesungguhnya beliau adalah suri tauladan yang baik


Ahmad Mustafa Al-Maraghi ,Tafsir Al-Maraghi (Semarang:CV. Toha Putra, Semarang), 1:401-401

M. Quraish Shihab ,Tafsir Al-Misbah (Jakarta:Lentera Hati.2006)

Hamka,Tafsir al-Azhar (Jakarta:Pustaka Punjimas.1982)

Penulis: Herlina, alumnus INSTIKA

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.