Mendidik Anak dalam Perspektif Islam

Perkembangan karakter, mental, dan kepribadian anak ditentukan oleh lingkungan sekitar, dan yang paling berpengaruh yautu lingkungan keluarga. Anak mendapat pendidikan pertama dari ibu dan bapaknya, oleh karena itu lingkungan keluarga termasuk poin penting bagi proses perumbuhan karakter anak. Seperti yang disebutkan dalam teori tabula rasa yang merupakan kelanjutan pendapat Aristoteles, teori ini berasumsi bahwa Seorang anak/bayi di ibaratkan sebagai kertas putih atau kertas bening dan yang menjadikan warna lain pada kertas tersebut adalah lingkungannya. Untuk itu family merupakan center dari pembentukan karakter anak. Suasana dalam keluarga yang dicontohkan nabi Ibrahim ialah profil keluarga yang shalih yang didalamnya terdapat nuansa religius dalam pembentukan karakter anaknya. Seperti yang disebutkan dalam teori tabula rasa tersebut bahwa peranan orang tua juga termasuk bagian yang teramat penting.   

Syariat islam menuntun umat Muhammad kepada jalan yang lurus dan berahlak mulia serta membimbing mereka kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Sebagai orang tua mendidik anak adalah suatu kewajibannya. Menanamkan nilai-nilai keagamaan serta mengajarkan tentang Tauhid atau mengenalkannya sesuai dengan ajaran Rasul juga termasuk poin penting, seperti yang dilakukan Luqman kepada anaknya yang hal ini Allah menceritakannya dalam surat Luqman ayat 13 :

Read More

 “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah,sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar “.

Dari ayat yang diatas tentulah pengajaran terhadap nilai-nilai agama kepada anak sangatlah baik jika dilakukan sejak si anak dalam usia dini, ketika anak-anak belum mengerti terhadap lingkungan luar rumahnya. Oleh karena itu sangatlah dianjurkan bagi orang tua dalam mendidik anak untuk melakukan shalat dan segala macam ibadah yang diwajibkan serta yang dilarang oleh agama (Huzaiman, 2004).

Dalam ajaran Islam shalat merupakan suatu ibadah yang wajib bagi pemeluknya terkecuali untuk anak kecil, shalat memang tidak diwajibkan bagi anak kecil karena menyangkut umur yang masih belum mencapai usia wajib shalat. Mengenalkan salat atau segala macam ibadah sesuai dengan ajaran agama bagi anak merupakan suatu kewajiban untuk para orang tua (muslim), karena kelak demi proses keterbiasaannya mereka dalam melakukan shalat atau melakukan ibadah, para anak-anak terlebih dahulu memang harus diajarkan shalat atau ibadah dari kecil.

Jika terdapat suatu pertanyaan kenapa harus diajarkan ketika anak masih kecil atau usia dini, maka bisa dijawab dengan alasan karena pada usia anak-anak merupakan masa pembentukan kepribadian. Bayi yang sudah berumur tiga bulan sudah menunjukkan karakteristiknya seperti tingkat aktifitasnya, dan lainnya (Hasan, 2014).

Selain itu pada masa balita merupakan masa emas (golden age) dalam pertumbuhan ataupun perkembangan anak, jadi sangat wajar jika menempatkan pendidikan anak merupakan poin yang harus diprioritaskan. Jika terjadi kesalahan dalam pemberian asah, asih dan asuh berdampak negatif  bagi proses pertumbuhannya.

Berdasarkan hasil riset atau observasi yang dilakukan oleh negara Adidaya (Amerika Serikat) kepada 15.000 para remaja disana yang hasilnya ialah jika peran keluarga terhadap pendidikan anak berkurang hal ini akan berdampak pada perubahan sikap anak tersebut, yang di antaranya : Peningkatan hamil diluar nikah yang dilakukan anak-anak dalam usia belasan tahun, peningkatan kriminalitas yang dilakukan oleh anak-anak.

 Dari hasil riset tersebut sangatlah disayangkan jika terjadi kepada generasi bangsa. Demikian itu danggap sebagai pengenalan segala macam ibadah dan nilai-nilai moral kepada anak jika dilakukan sejak dini untuk dapat mengurangi berbagai dampak negatif yang akan terjadi setelah dewasa atau remajanya kelak. Untuk itu selain menanamkan dan mengajarkan akhlakul karimah yang baik sesuai ajaran agama. Dan sepatutnya jugalah orang tua (ibu dan bapak)  memberi contoh yang baik atau akhlakul karimah serta menjadi teladan bagi anak-anaknya, karena sangat tidak etis jika mengajarkan kebaikan namun dinodai atau  dengan akhlak yang tercela yang ditampakkan kepada anak, karena hal itu akan mengurangi penilaian anak terhadap orang tuanya.

Semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk putra-putrinya, termasuk juga dalam pendidikan, karena hal ini menyangkut tanggung jawab atau amanah dari Tuhan yang membutuhkan perhatian extra untuk kebaikan atau keberhasilan si anak (Ridwan, 2014).

Tentang contoh pendidikan untuk anak atau seperti apakah cara mendidiknya, banyak sekali kita temui suatu contoh seperti yang diajarkan nabi-nabi, para sahabat nabi, Tabi’in, ulama, dan lainnya yang menyangkut dari hal tersebut.  Dalam hal ini tidak ada salahnya bercermin kepada Rasulullah dan sahabat serta tabiinnya dalam cara mendidik anak agar kelak anak akan tumbuh menjadi anak kebanggan. Untuk itu para org tua hendaaknya selalu meng-up-grade  diri untuk selalu mengisi kekosongan yang menjadi kebutuhan sesuai perkembangan zaman di era ini.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.