Pendidikan Indonesia: Membangun Generasi Emas, antara Wacana atau Realisasi?

Sejak Pandemi Covid-19 tahun 2020 lalu, dunia mengalami keguncangan besar terutama dunia pendidikan. Pelaksanaan pembelajaran yang awalnya tatap muka beralih pada pembelajaran jarak jauh (PJJ). Pembelajaran jarak jauh menggunakan gadget sebagai media pembelajaran. Pengaruhnya, guru dan siswa harus mampu mengoperasikan Gadget atau technologi. Selama Pembelajaran jarak jauh, pemerintah memberi bantuan subsidi kuota untuk keperluan akses pembelajaran (zoom meeting) pada anak didik (Aisyah Kamaliah: 2021). Tuntutan keadaan ini mewajibkan peran guru semakin dinamis, terus berinovasi, dan melek teknologi. Dalam kondisi apapun, pembelajaran tetap dilakukan supaya tujuan tercapai.  

 Sejak masa pandemi seluruh masyarakat dilarang berkerumun, akhirnya siswa tidak diperkenankan masuk ke sekolah. Perubahan budaya ini cukup mengagetkan dunia pendidikan. Dampaknya, mengubah cara pandang, pembelajaran menjadi tidak terikat pada ruang kelas, seluruh perangkat pendidikan harus menerima dan mengikuti budaya baru tersebut meski terpaksa atau pun menentangnya.

Read More

Kebijakan dianggap sebagai solusi tepat, nyatanya mengalami kendala. Selama berlansungnya PJJ, masih banyak anak didik mengalami problem, misal: Muncul kebosanan bagi anak didik selama proses pembelajaran hingga berpengaruh pada kurangnya keterlibatan mereka dalam pembelajaran, anak didik dari kalangan ekonomi menengah kebawah tidak memiliki gadget, terbatasnya sinyal hingga membuat mereka harus pergi ke tempat yang terjangkau sinyal, semisal ada yang harus ke perbukitan diantar oleh orang tua. Ada pula anak didik yang tidak memiliki handphone maupun laptop, sedang sekolah menerapkan peraturan wajib bagi anak didik. Suatu kebijakan yang tidak etis diterapkan. Seharusnya lembaga pendidikan memiliki solusi terhadap problem tersebut. Dampaknya, banyak masyarakat yang memberhentikan anaknya sekolah karena ekonomi tidak memungkinkan (Andri Anugraha:2020).

Membaca pendidikan tidak cukup dengan melihat keadaan atau fenomena di salah satu daerah, misal pulau Jawa. Kemungkinan yang terjadi di daerah Jawa memperparah keadaan di daerah luar Jawa. Makin lama pelaksanaan PJJ kurang mampu menjawab tantangan pendidikan di Indonesia masa kini.

Pembangunan pendidikan masih menjadi harapan bersama. Berdasarkan pengamatan tentang tantangan yang harus dijawab oleh dunia pendidikan kita saat ini, sesuai dengan cita-cita membangun generasi emas Indonesia, sebagai langkah awal dapat dilakukan dengan beberapa hal;  

  • Peniadaan Peringkat kelas

Adanya peringkat kelas, seakan melahirkan gap dengan yang lainnya. Berdasarkan pengalaman penulis pada masa sekolah SMA. Juara kelas bukanlah solusi yang tepat diterapkan. Dalam dunia pendidikan, penting menerapkan metode punishment dan reward. Namun, pemberian juara kelas akan melahirkan anak didik yang memiliki simbol “Si pintar dan Si bodoh”. Cukup disadari bersama, tidak ada manusia yang bodoh, ia hanya tidak tepat bertemu dengan pendidik atau guru yang mengarahkan minat dan skillnya. Misal, masa SD-MSP-SMA meraih juara kelas, ketika lulus sekolah dan PT, ia bingung arah tujuannya dan begitu sebaliknya. Pendidikan harusnya hadir sebagai wadah atau ruang  menggali potensi anak didik demi kesuksesan masa depan.

  • Guru yang berkepribadian

Selain sekolah dan kurikulum, peran Guru merupakan salah satu hal penting yang harus diprioritaskan. Sebagai aktor dalam pendidikan, Guru harus berkepribadian dan memiliki akhlak yang layak dicontoh oleh anak didiknya. Proses belajar tidak hanya di ruang kelas, karena bagi anak didik sosok guru merupakan panutan atau tauladan mereka selain orang tuanya. Lembaga pendidikan juga harus memiliki standar tertentu dalam merekrut guru. Generasi emas yang berpribadian akan terbentuk atau terlahir dari lingkungan yang mendukung. Seperti salah satu Sufi muslim, Rumi yang sangat mengagungkan sosok Gurunya. Selain pintar, Guru juga harus berkepribadian.

  • Pemerataan biaya pendidikan dan hak sekolah untuk seluruh anak Indonesia

Biaya pendidikan di Indonesia cukup beragam, mulai yang paling mahal hingga sekolah yang biaya paling murah. Sekolah dengan biaya SPP mahal menawarkan sistem pendidikan yang hampir sempurna dilengkapi fasilitas mewah, berbeda dengan Sekolah biaya SPP murah memiliki sistem dan fasilitas terbatas.

Kesenjangan ini sudah berlangsung sejak lama, namun tetap belum menemukan solusinya. Menuntut ilmu dan sekolah merupakan hak setiap Bangsa Indonesia. Salah satu bentuk perhatan pemerintah dengan mengalokasikan dana anggaran APBN 20%. Anggaran yang lumayan besar untuk Pendidikan. Namun arah pendistribusian dana tersebut apakah amanat disampaikan kepada rakyat? di desa pelosok, masih menemukan keadaan sekolah negeri dengan kondisi yang memprihatinkan. Misal di salah satu di daerah Madura, Jambu, Papua, terutama bagian kepulauan. Padahal banyak generasi emas berasal dari masyarakat pedesaan. Bukankah pemimpin-pemimpin saat ini banyak yang lahir dari rahim orang desa?

Daftar Pustaka

Andri Anugraha, “Hambatan, Solusi dan Harapan: Pembelajaran Daring selama Masa Pandemi Covid-19 oleh Guru Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, vo.10, No.3, September 2020.

Aisyah Kamaliah, “Subsidi Pulsa Rp.200 ribu dan Kuota 125 GB dari Kemendikbud, Hoax or Not? https://inet.detik.com/cyberlife/d-5612438/subsidi-pulsa-rp-200-ribu-dan-kuota-125-gb-dari-kemendikbud-hoax-or-not, Detikinet, 19 Juni 2021.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.