Meneladani Emak: Mengapa Harus Takut?

Jika Guru merupakan singkatan dari kata digugu dan ditiru, lalu makna istilah Emak itu apa? Dari saking ngefans banget sama sosok Emak, saya tidak menemukan kata apa yang pantas untuk membahasakannya. Emak selalu menjadi orang terdepan dalam mendahulukan kepentingan anak-anaknya.

Read More

Suatu hari tepat pada jadwal pendaftaran baru kuliah. Kebetulan saya direstui kuliah di kampus dekat rumah. Alasannya, “Ilmu itu sama, tidak di kampus luar kota negeri sekalian, semuanya sama,” alasan keluargaku. Hatiku membatin “Tapi kan pengalamannya berbeda, prosesnya juga. Teman-temannya juga beda, lingkungannya apa lagi.” Kesel sih, tapi saya tidak berdaya dan akhirnya manut (istilah Jawa maksudnya nurut) saja. It’s OK. Akhirnya mendaftar di kampus swasta yang lokasinya tidak jauh dari rumah.  

Mau mendaftar tapi tidak berani ke kampus, alasannya saya malu dan takut. Saat itu saya termasuk anak perempuan yang pemalu banget apalagi ketemu dengan lelaki, alias kupel  (kurang pergaulan). Di rumah sedang sibuk mempersiapkan menu makanan untuk sajian di acara kompolan (istilah Maduramaksudnya acara kumpulan yang isinya ngaji tadarus dan tahlilan) kebetulan gilirannya Bapakku. Di rumah sedang sibuk, dan Emak sebagai kepala dapur tengah mempersiapkan menu makanan.

“Loh kok belum berangkat,  Nduk?” Emak saya bertanya. Jawaban saya simple, “duh… gimana y acara masuk ke kampusnya, bingung dan malu ga punya teman.” Emak saya heran mendengar jawaban saya. “loh kok bisa bingung? Tinggal berangkat. Emak sibuk ini, sudah gak papa berangkat aja dulu ya tidak akan dimakan orang apalagi Baung (istilah ini sering diucapkan masyarakat Madura artinya hantu yang besar dan menakutkan)” Emak mencoba menyemangati.

Dasar saya karena pemalu tidak kunjung berangkat, alhasil Emak saya langsung mengantar saya untuk mendaftarkan saya. Udah 18 tahun masih pemalu. Sesampainya di kampus si Emak dengan beraninya bertanya sana sini hendak menuju kantor mana untuk pendaftaran mahasiswa baru sembari memegang tangan saya.

Emakku tampak berani hingga memasuki kantor salah satu ruangan Fakultas Pendidikan untuk bertanya jurusan-jurusan. Jujur saja saat itu saya minim informasi dan setengah tidak bersemangat kuliah di dekat rumah. Di dalam ruangan banyak mahasiswa baru dan para staf sedang sibuk dengan kerjaannya maisng-masing. Saya masih saja merasa malu bertemu banyak orang apalagi santri-santri putra saat itu mulai memenuhi lingkungan kampus dan tempat pendaftaran kuliah.

Proses pendaftaran tidak sebentar seperti dugaan, kami mengantri dalam tempo yang tidak sebentar, Emak saya dengan sabarnya ia berusaha menyelesaikan proses tersebut. Rasanya sangat malu. Lingkungan sekitar mulai memperhatikan saya yang didaftarkan oleh orang tua, sedang mereka mendaftar sendiri. Emak memandang saya sembari berbisik “Coba lihat sekitarmu, semuanya sendiri bukan? Tidak ada yang diantar oleh orang tuanya.”

Saya mulai memperhatikan orang-orang sekitar, cara-cara mereka melakukannya sendiri. Belajar mandiri ternyata tidak mudah, mental saya belum siap dan masih diselimuti rasa takut dan sering juga kaki dan tangan gemetar serta keringat dingin. Emak menasehati saya “Nduk, semua anak-anak disini juga pasti pernah kayak kamu, tapi mereka sudah selesai mengalahkan rasa takutnya, kamu harus begitu ya.”

Saya memperhatikan lagi lingkungan sekitar dan juga Emak. Memikirkan dengan seksama sembari membatin “Sebenarnya mengapa saya harus takut? Apakah perasaan ini wajar?” Emak yang masih memiliki tugas menyiapkan sajian di acara nanti malam rela mengulur waktunya meski waktu sangat mepet sekali. Rasa tanggung jawabnya sangat besar. Katanya ia ingin melihat anaknya kuliah dan menimba ilmu di perguruan tinggi atau Strata 1.

Dipikir-dipikir, perempuan seperti Emak benar-benar tangguh dan penuh tanggung jawab. Rela mengalah dan sembari menasehati anaknya, dan juga mengajarinya untuk tangguh dan tidak lagi takut. “Selama yang dilakukan itu benar mengapa harus malu? Tidak usah malu, kamu perempuan hebat, Nduk,” katanya lagi. Mendengar demikian, hatiku tersadar dan benar saja mengapa saya harus malu. Bukankah apa yang hendak dilakukan merupakan perbuatan yang tidak menyalai aturan? Mengapa saya harus takut?     

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.