Dibalik Kemenangan Para Juara, Ada Guru Hebat di Belakangnya

Beberapa waktu lalu, Bangsa Indonesia tengah merayakan kemenangan dalam liga Bulu Tangkis. Anak bangsa berjuang mengharumkan nama Indonesia. Ucapan selamat menggema di mana-mana. Di tengah keadaan yang tidak stabil akibat pandemi ini, PPKM semakin bertambah masanya, isu Covid pun masih mendominasi. Bangsa Indonesia dihadiahi kabar baik oleh para putri Bangsa atlet bulu tangkis yang beberapa waktu lalu berhasil menjuarai kemenangan di berbagai olimpiade negeri ini.

https://panggonmaca.com/

Gracia Poli dan Apriani, pasangan pebulu tangkis ganda perempuan yang mengokohkan diri sebagai atlet yang tidak bisa dianggap remeh oleh lawannya. Kemenangan ini merupakan hasil perjuangan diri, semangat yang tak kunjung redam serta support sistem orang-orang terdekat terutama keluarga dan pendidiknya. Guru yang baik ialah Guru yang dapat menginspirasi anak didiknya supaya tetap semangat.

Read More

Tidak ada Anak yang Bodoh

Secara fitrah anak terlahir dalam keadaan suci. John Lock mengibaratkannya seperti kertas putih yang bersih, lingkunganlah yang memberi warna padanya. Menjadi putih, biru, hitam, atau warna-warna lainnya, seorang anak akan berkembang sesuai masanya. Anak yang baru lahir dibekali potensi yang apabila dikembangkan dengan baik, ia akan tumbuh menjadi berlian.

Potensi pada diri seseorang, jika semakin diasah semakin menjadi lebih tajam. Potensi itulah yang nantinya menjadi kelebihan di banding lainnya. Artinya jika seorang anak yang terlahir mendapatkan bimbingan keluarga yang mensuport penuh dan sangat mencintainya ia akan tumbuh berkembang menjadi sosok yang penuh cinta berakhlak sebagaimana didikan lingkungannya.

Lingkungan yang kondusif, saling peduli dan penuh cinta berpengaruh besar terhadap perkembangan emosi anak. Ia tumbuh seperti gambaran lingkungan sekitarnya. Begitu sebaliknya, anak yang baik akan menjadi buruk jika salah dalam didikan serta pergaulan. Kebanyakan dari kita menganggap anak pintar itu anak yang mendapat juara kelas. Padahal kecerdasan manusia terdiri dari 3 hal, yaitu kecerdasan IQ, EQ, dan SQ (Askar,2006).

Sering kita menemukan anak yang peringkat paling rendah di sekolah dianggap anak bodoh pada tingkat sekolah. Lembaga sekolah hanya menilai kemampuan anak didik dalam ranah kognitif atau IQ. Banyak yang lupa bahwa seseorang memiliki kecerdasan yang berbeda. Sering menemukan anak dianggap bodoh, tolol, Oon dan sebagainya karena persoalan anak malas belajar atau malas mengikuti pelajaran di sekolah. Sesungguhnya Ia memiliki minat lainnya, misal lebih senang menjadi atlet, programmer, teknisi, dan lainnya.

   Masing-masing anak memiliki impian yang berbeda. Tidak juara di kelas bukan berarti ia bodoh dan tidak bisa sukses dibidang lainnya. Kunci sukses anak supaya tumbuh menjadi pribadi yang kompeten yaitu terus mensuport anak pada setiap kebaikan yang ingin mereka expresikan, ajak anak diskusi dan mintai pendapatnya, sebagai awal proses latihan berani berpendapat, terapkan metode reward dan hukuman untuk melatihnya disiplin, support sistem dari keluarga tidak boleh kendor. Ajari anak tentang kejujuran, dan hal postifi lainnya.

Apa saja Tugas Guru?

Sejatinya pemaknaan guru sangatlah luas. Pengalaman pun dapat menjadi guru terbaik bagi manusia. Namun istilah guru saat ini sering dikoneksikan dengan seorang pengajar di lembaga pendidikan. Ibu ayah pun merupakan pendidik pertama kita. Tentang pemaknaan guru kita menyepakati guru ialah pendidik di lembaga pendidikan, yang memiliki tugas mendidik peserta didik.

Guru itu orang yang banyak berjasa bagi diri kita. Berkat didikannya kita bisa menjadi sesorang pembelajar dengan baik, dapat membaca menghitung, dan lainnya. waktu belajar di sekolah memanglah tidak sebanyak di rumah. Namun di lingkungan sekolah kita banyak menemukan pengalaman baru selain didikan dari orang tua dan keluarga.

Tugas guru itu, sejatinya tidak hanya mentransfer pengetahuan, ia memiliki tugas sebagai fasilitator, pengarah yang baik bagi peserta didiknya, motivator, dan inspirator bagi peserta didik. Guru yang baik ialah guru yang mampu menerangi arah jalan impian peserta didiknya (Ahmad Sopian, 2016). Sejatinya tidak ada anak yang bodoh, ia hanya tidak bertemu dengan guru yang tepat yang mampu membaca potensi yang dimiliki masing-masing anak serta mengarahkan minatnya. Dan seharusnya setiap guru memiliki kemampuan membaca potensi anak dengan baik.

Banyak anak yang malas membaca buku tapi ia menjadi juara dunia dan mengharumkan nama bangsa. Selain itu banyak juga anak yang salah bertemu guru dan gagal dalam meraih cita-cita. Peran guru itu tidaklah mudah. Ada tanggung jawab besar yang diembannya. Kesuksesan tercapainya pembelajaran juga ada di tangan guru. Namun menjadi guru itu tugas yang mulia. Tidak semua orang mampu menjadi guru yang baik yang mampu mengantar kesuksesan anak. Jadi dibalik kesuksesan anak ada guru hebat yang selalu mensuportnya dengan telaten dan dengan penuh cinta. Waallahua’lam

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.