Mengenal Madura Lebih Dekat: Sosial, Budaya dan Masyarakatnya

Istilah Madura sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Saya sebagai keturunan Masyarakat Madura atau Madurani’s tulen sering mendapat pertanyaan dari  masyarakat luar daerah, “Madura itu dikenal dengan perang sampitnya ya? Carok, dan masyarakatnya yang keras kepala banget, bukan?” identitas Madura ternyata dikenal dengan budaya yang kurang baiknya, misal Carok (Perkelahian dengan menggunakan celurit untuk melukai lawan). Selain itu, masyarakat Madura juga sering dikenal dengan watak keras, tempramen tinggi, susah dinasehati dan tidak terbuka oleh lingkungan luar. Rasanya saya ingin megenalkan kepada mereka, Madura tidak seseram berita yang sampai kepada mereka.

Dahulu banyak warga di beberapa kabupaten melakukan praktik Carok dengan alasan “Lebih baik putih tulang dibanding putih mata” maksudnya ialah lebih baik mati dibanding hidup menanggung rasa malu. Sering yang menjadi alasan terjadinya carok karena masalah perselingkuhan, salah paham, perebutan harta dan lainnya sebagai bentuk perlawanan kepada orang lain. Dari fenomena yang ada, kita perlu mengenal Madura lebih dekat.

Read More

Keadaan Sosial Masyarakat dan Letak Geografis Madura

Madura berada di dataran rendah dengan dikelilingi laut menjadikannya sebagai daerah yang bercuaca panas pada musim panas serta memiliki dataran yang tandus. Madura memiliki banyak pulau kecil, paling banyaknya di kabupaten Sumenep. Selain itu, ia memiliki empat kabupaten; Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Empat Kabupaten dan logat budaya bahasa yang tidak sama, misal kata “Kamu” lisan Madura ba’na (Sumenep), be’en (Pamekasan), kakeh (Sampang), hedeh (Bangkalan). Semakin ke timur (daerah Sumenep) budaya bahasa lisannya berbeda, baik dari gaya bahasa maupun intonasinya pelafalannya.

Letak daerah yang panas dan tandus, namun apakah berpengaruh terhadap pola pikir masyarakat Madura? Kondisi lahan yang tandus membuat masyarakat Madura banyak yang meggantungkan kehidupannya di laut. Mereka berlayar menangkap ikan dan berjuang di tengah laut. Demikian dapat dijadikan alasan lahirnya perilaku sosial masyarakat yang berani berjuang, rajin, dan menjunjung tinggi martabat dan harga diri (Kompas: 2004).

Mayoritas masyarakat Madura beragama Islam, banyak terdapat lembaga pendidikan Islam pesantren bahkan hampir di setiap dusunnya. Karakteristik masyarakat Madura itu ramah, pekerja keras, rajin, termasuk juga perempuannya. Sebagian ada yang merantau, dengan tujuan untuk mendapatkan kualitas pendidikan dan mengubah keadaan ekonomi keluarga. Bahkan di setiap penjuru daerah di Indonesia termasuk luar negeri terdapat perantau dari Madura.

Budaya Madura: Lumbung Penulis Muda?

Dari waktu ke waktu, identitas Madura mengalami perkembangan. Banyak sastrawan dan penulis muda terlahir disana. Lebih tepatnya di Pesantren-pesantren. Pesantren di wilayah Madura cukup banyak, bahkan disetiap dusunnya. Ali-alih dalam satu dusun terdapat lebih dari 2 pesantren. Para santri tidak hanya mengaji dan mendengarkan ceramah Ustadznya. Di waktu senggang mereka produktif berkarya dengan menulis dan menciptakan sajak-sajak puitis mulai dari pengalaman mereka di pondok serta kehidupan sehari-hari.

Kebiasaan mereka lahir dari budaya yang memaksa mereka harus berkarya. Kesadaran ini dibangun dari diri sendiri. Apalagi bila salah satu karya tulis kawannya berhasil dimuat di beberapa media, misal koran dan majalah. Budaya itu lahir dan berkembang secara turun temurun. Rasanya tidak sah menjadi santri di salah satu pesantren bila tidak berkarya.

Pernah saya mengalami sendiri bila bergaul dengan teman-teman di Pesantren tempat saya mengampu ilmu. Rasa iri sering muncul terutama bila apresiasi lembaga sekolah dan pujian dari guru kepada teman yang karyanya dipublish. Selain itu apresiasi dari guru bisa berupa jaminan lulus di salah satumata pelajaran yang diampunya tanpa mengikuti ujian semester, tawaran yang menarik terutama bagi  siswa yang malas belajar. Semua teman-teman santri berkompetisi secara sehat. Dari situ banyak terlahir sastrawan santri muda dari kalangan pesantren.

Banyak para tokoh yang kita kenal saat ini merupakan alumnus pesantren. Di pesantren, santri sangat dekat dengan sastra, seperti merapalkan nadham yang merupakan syair-syair karya tokoh muslim terdahulu. Untaian bait-baitnya menyantuh relung hati. seperti nadham kitab Alfiya Ibn Malik, Jurumiyah, dan lainnya dengan irama yang beragam. Sastra bagaikan bagian kehidupan santri di Pesantren.

Catatan majalah Horison juga mengakui beberapa tahun lalu bahwa kontributor terbanyak merupakan santri Madura bahkan di setiap edisi publishnya. Kompetisi yang sehat menjadikan Madura dikenal sebagai lumbung penulis muda. Setiap kali ke luar daerah Madura, bertemu dengan masyarakat luar daerah ketika bertanya latar belakang saya respon mereka “Kenal dengan M.Faizi? Kenal dengan Zawawi Imron?” bahkan  termasuk dosen saya pernah menanyakan demikia. Nampaknya banyak yang mengenal Sastrawan dan penulis asal Madura seperti Dzawawi Imron (Sumenep), Rayyan Julian (Pamekasan) dan Edi AH Iyubenu (Sumenep), Muna Masyari Cerpenis Perempuan dari Madura, dan lainnya. 

Keberhasilan masyarakat Madura memberi identitas baru bagi Madura. Seiring berjalannya waktu, muncul  juga para penulis serta sastrawan muda Madura lainnya. Sebagian dari mereka menjadi lebih matang secara wawasan dan keilmuan setelah merantau dan mengenyam pendidikan di luar daerah. Bermodal kegigihan, mereka persembahkan keberhasilan.  Keberhasilan itu secara tidak langsung menambah identitas Madura sebagai pulau ”Lumbung Penulis.”

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.