Meneguhkan Inklusifitas Generasi Digital di Era Disrupsi

Indonesia merupakan suatu negara maritim yang kaya dengan sejuta keberagamannya. Keberagaman ini telah menjadi karakter penguat dalam mewarnai ‘Persatuan Indonesia’ yang tertuang dalam Pancasila poin ketiga. Dapat diartikan bahwa bangsa Indonesia harus menerapkan persatuan dan kesatuan guna menumbuhkan sikap cinta tanah air dan menjaga sikap toleransi agar tetap bisa bertahan sebagai negara yang damai dan merdeka.

Read More

Sikap toleransi merupakan sebuah bentuk keterbukaan dan saling menghargai perbedaan satu sama lain baik agama, budaya, suku, ras dan lainnya. Hal ini  bukan suatu keniscayaan dengan beragam berbedaan, namun akan menjadi power semangat kebersamaan dalam meneguhkan nilai-nilai religiusitas-nasionalis untuk mencapai negara yang maju seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (globalization era).

Di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tidak dapat dipungkiri bahwa media internet telah memberikan sumbangsih yang sangat besar bagi kemudahan akses ilmu pengetahuan. Akan tetapi di sisi lain, era ilmu pengetahuan yang serba instant  juga dapat memberikan bibit kesempatan yang sangat besar pula terhadap oknum yang dapat memecahkan persatuan dengan menyebarkan gerakan paham radikalisme, sekuralisme dan fundamentalisme melalui internet dan platform media sosial lainnya. 

Gerakan tersebut dapat merambah terhadap semua kalangan baik pelajar, bahkan Generasi Digital saat ini yang paling aktif berinteraksi dengan internet dan media sosial berpotensi menjamah informasi ajaran-ajaran radikalisme yang menjadi ancaman bagi segenap negara yang menerapkan multikulturalisme, khususnya Indonesia.

Berdasarkan sumber data yang dirilis oleh Internetworldstats pada Maret 2021, Indonesia berada di peringkat ketiga tingkat pengguna internet se Asia yang mencapai 212,35 juta jiwa setelah India 755,82 dan Tiongkok 989,08 juta jiwa. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pengguna internet setiap waktu semakin bertambah dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Penguasaan yang tinggi terhadap informasi dan teknologi saat ini diperankan oleh Generasi Milenial, Generasi Z atau yang dikenal dengan istilah Generasi Digital, ciri-ciri generasi ini menjadikan digitalisasi sebagai bagian hidup serta diskursus dalam dimensi politik, budaya, pendidikan, agama, ekonomi, dan pola interaksi sosial sehari-hari.

Pemanfaatan digital di era disrupsi semakin diafirmasi dengan merebahnya penyebaran pandemi Covid-19 yang telah kita jalani selama satu setengah tahun lalu, sehingga mengharuskan masyarakat melakukan transformasi aktivitas sehari-hari (daily activity) ke dalam dunia digital demi mengikuti perkembangan arus globalisasi, di samping menanggulagi penyebaran pandemi Covid-19.

Kekayaan ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong adanya perubahan yang masif terhadap pemikiran serta perilaku banyak orang sehingga menghasilkan revolusi digital yang dirasakan saat ini. Mulai dari interaksi politik, ekonomi, pendidikan, dan aktivitas sosial lainnya menjadi wajah baru dalam melakukan adaptasi kehidupan budaya normalitas baru (new normal).

Di zaman yang semakin maju ini, sejumlah kultur yang masuk ke dalam dunia digital semakin marak dan menjadi konsumsi publik yang dapat mempengaruhi konstuksi berfikir masyarakat. Maka perubahan dan kerangka berfikir masyarakat dipastikan tidak akan selalu mengarah kepada hal-hal positif, melainkan hal-hal negatif menjadi sebuah tantangan kompetitif bagi ‘Generasi Digital’ yang tumbuh berkembang di era disrupsi.

Kemampuan yang adaptif terhadap teknologi informasi dan sejenis ekosistem digital lainnya (artificial intelligence), diharapkan dapat menjembatani dan menyaring penyebaran informasi-informasi yang akan mengarah pada kehancuran kesatuan bangsa.

Transmisi Nilai-nilai Inklusif

Generasi cakap digital haruslah lebih mampu dalam mengakomodir arah kemajuan bangsa. Terlebih memanfaatkan digital dalam menerapkan nilai-nilai inklusif sebagai pondasi membangun peradaban toleransi. Pemahaman inklusif menjadi batu loncatan yang tidak hanya dipahami sebagai keterbukaan dalam suatu bentuk keyakinan agama yang berbeda, melainkan di satu sisi inklusifitas juga merupakan dimensi universal yang dapat diterapkan di setiap perbedaan.

Dalam konteks beragama misalnya, esensi dalam memahami inklusifitas merupakan sebuah kodrat yang telah dititipkan Tuhan kepada manusia agar dapat membangun kesetaraan dan menerima setiap perbedaan keyakinan agama.

 Hak kebebasan beragama juga dijamin dalam Pasal 29 Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa dan negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya dan beribadah menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Hal itu telah tertuang pula dalam sila pertama Pancasila yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Corak dari paham inklusifitas juga sangat cenderung membuahkan kepribadian sikap toleran dan menumbuhkan pemahaman yang moderat dalam beragama. Dengan kata lain, inklusifitas menjadi pijakan dari pemahaman dasar untuk menumbuhkan sikap toleransi yang kemudian diejawantah melalui paham moderasi beragama di Indonesia. Hal ini sangat kontradiktif dengan paham eksklusivisme yang tidak dapat dijadikan sebagai pilihan dalam wujud toleransi.

Konflik dalam suatu negara selalu disokong oleh bentuk ketidak-terimaan suatu perbedaan. Eksklusivisme menjadi sarana suatu paham yang tidak terbuka terhadap pendapat lain. Maka paham ekslusivisme menjadi batu sandungan sendiri yang telah membentuk sebuah paham keagamaan yang tidak mampu dalam mengembangkan budaya dialog dan moderasi dalam beragama dikarenakan paham eksklusivisme hanya terjebak dalam klaim kebenarannya masing masing.

Maka kesadaran dari posisi sentral Generasi Digital dalam menghadapi era disrupsi sekarang diharapkan mampu untuk dapat berperan aktif dan adabtif dalam memasukkan serta menyesuaikan nilai-nilai pemahaman yang inklusif melalui internet dan platform media sosial lainnya melalui penguatan program Literasi Digital.

Kecakapan Generasi Digital dalam mengoperasikan digital dengan baik akan berimplikasi terhadap kemampuan kognitif, afektif, dan konatif dalam merajut budaya digital (digital culture) demi menjaga keseimbangan politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan lainnya,  sehingga tercipta kerukunan, keadilan, dan kesejahteraan negara dalam menyongsong cita-cita Indonesia Emas 2045 dan seterusnya. Wallahu a’lam…

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.