Tantangan Pesantren di Era Globalisasi 

Pondok-Pesantren-di-Indonesia.-JATIMPROV

Kita sudah tahu bukan, tentang pesantren dan sejarah berdirinya. Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang bertujuan membentuk akhlak dan menggali potensi santri, intelektual, dan bermoral. Di sana, santri-santri bermukim dan beraktivitas. 

Di masa dahulu, Pesantren masih dengan bangunan sederhana, terdiri dari beberapa komponen, Kiai (Pengasuh dan Pendidik santri di Pesantren), santri (murid atau seseorang yang menuntut ilmu di pondok Pesantren), pondok Pesantren (lembaga tempat santri menuntut ilmu), dan Kitab Kuning (materi).

Read More

Keseluruhan komponen itu saling berkaitan satu sama lain, artinya harus ada. Pengasuh berperan sebagaimana tanggung jawabnya, santri menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh kepada Kiai di pesantren, Pondok Pesantren sebagai wadah tempat pembelajaran berlangsung, dan Kitab Kuning yang merupakan bahan ajar wajib, sebab santri identik dengan penguasaan ilmu agama, dimana keilmuan banyak bersumber pada Kitab Klasik karya Ulama terdahulu.

Sejalan dengan laju perkembangan era globalisasi yang melahirkan banyak perubahan. Budaya baru dan interaksi semakin hari semakin meningkat. Perlu adanya sistem filter informasi untuk membatasi hal positif dan negatif. 

Abdullah Hamid (2021) dalam bukunya Literasi Digital Santri, memberi pandangan bahwa di masa kini pesantren harus respons terhadap perkembangan informasi dan teknologi. Globalisasi memberi beban berat bagi pesantren supaya konsisten mencetak santri yang menguasai bidang sosial, intelektual, dan moral. Santri harus peka terhadap perkembangan zaman. Santri juga harus eksis berkiprah menyuarakan wawasan keilmuan berdasar sumber yang otoritatif (Al-Quran dan Hadits).

Sebagaimana pula menurut Undang-undang tentang Pesantren, Nomor 18 Tahun 2019, yang berbunyi; 

“Pesantren merupakan lembaga yang berbasis masyarakat, didirikan oleh lembaga atau yayasan, perseorangan yang bertujuan menanamkan nilai keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, menyemaikan akhlak mulia, dan memegang teguh ajaran Islam.”

Pesantren dalam peranannya yakni bertujuan menanamkan nilai keimanan dan akhlak. Kitab Kuning merupakan sumber rujukan tentang ketentuan dan panduan berperilaku atau berinteraksi dengan sesama. Visi dan misi harus dirancang sedemikian dalam rangka mempertahankan eksistensi Pesantren.

Masalah Saat ini

Masalah saat ini, sering terjadi banyak kasus kekerasan atau kriminal yang mengindikasikan bahwa Indonesia memiliki bangsa yang lumpuh dalam menjaga  perdamaian. Ancaman tak kunjung hilang dan membuat sebagian bangsa merasa tidak aman di Tanah Airnya sendiri.

Obat dari ketimpangan moral ini adalah pendidikan karakter. Beberapa tahun lalu lembaga pendidikan membuat terobosan kurikulum 2013 dengan menekankan pendidikan karakter kepada anak. Menumbuhkan karakter sejak dini dengan tujuan  generasi muda memiliki karakter luhur, oleh karena itu ia diharapkan sadar bahwa melakukan tindakan kejahatan tidak tepat untuk dirinya sendiri. Membangun kesadaran seperti itu nyatanya perlu proses yang bertahap.

Peranan Pesantren ialah berada di tengah-tengah masyarakat, yakni menjadi lembaga pendidikan Islam yang bertanggung jawab penuh mendidik dan menanamkan nilai-nilai kepesantrenan. Seperti berbudi luhur, tutur kata yang lembut, sopan, dan saling menghargai satu dengan lainnya.

Cepat atau lambat zaman terus berkembang, dan masing-masing kita harus menyesuaikannya. Maraknya radikalisme dan fanatisme agama sering memunculkan pertikaian antar bangsa, Tak jarang media sosial dipenuhi oleh ujaran kebencian dan saling menyerang mental. Maka tak jarang pula banyak orang merasa sakit hati atau dampak buruknya ada yang bunuh diri. Contoh-contoh itu mau tidak mau harus disadari dan ditemukan solusinya.

Solusi

Beberapa langkah yang perlu dibenahi oleh pesantren yakni kurikulum Pesantren. Dengan menambah wawasan pengetahuan untuk santri, maka tidak ada salahnya menanamkan wawasan baru bahwa santri harus belajar ilmu umum seperti informasi dan teknologi.

Transformasi pesantren dari tradisional ke modern merupakan langkah positif. Kini santri tidak hanya berbekal pengetahuan agama saja, melainkan banyak skil yang akan ia peroleh di pesantren.

Mengagendakan literasi digital bagi santri, juga merupakan alternatif memaksimalkan potensi berkiprah di ranah media sosial. Santri harus menyampaikan keilmuan nilai-nilai kepesantrenan yang sudah menjadi tanggung jawabnya kepada masyarakat. 

Artinya saat ini, Peran pesantren tidak hanya mencetak Dai, namun intelektual muda tidak jarang muncul setelah penerapan budaya literasi di lingkungan pesantren. Sampai saat ini, peran pesantren masih memiliki urgensi khusus sebagai wadah pencetak generasi muda yang intelektual dan bermoral. 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.