Apa yang Harus Dipersiapkan Sebelum Menikah?

Pernikahan merupakan sesuatu yang diidam-idamkan oleh sebagian besar manusia terutama yang memiliki pasangan. Puncak dari suatu hubungan, yakni membina rumah tangga bersama pasangan, bersepakat saling berikrar janji suci untuk hidup setia dalam suka dan duka hingga maut memisahkan.

Maka tak jarang tujuan dari suatu hubungan adalah berikrar di pelaminan. Indahnya cinta serasa dunia milik berdua. Sepasang pasangan yang saling mabuk asmara. Namun dibalik itu semua, pernikahan merupakan gerbang kehidupan baru. Ada banyak yang harus dipersiapkan, bukan hanya ‘Cinta.’

Read More

Syair-syair Faruq Juwaidah yang diterjemahkan oleh Musyfiqurrahman (2021) Dalam bait syair-syairnya menyampaikan keindahan cinta dengan realitas hidup. Cinta yang tidak hanya ditujukan pada kekasih. Cinta melembutkan hati, melatih rasa untuk peka, untuk selalu mencintai.

Membahas tentang cinta memang tidak ada habisnya, imajinasi selalu menjalar, berkembang dan itulah esensi cinta yang patut disyukuri. Maka atas dasar cinta suatu hubungan menjadi ‘langgeng’ dan bertahan lama. Namun ada pula realitas cinta tidak direstui.

Kang Maman dalam Bukunya ‘Ada Nama yang Abadi di Hati tapi Tak Bisa Dinikahi’ (2021 Cetakan ke II). Sebuah realitas ikatan cinta yang tidak berujung pernikahan, kedua pasangan ini terpaksa menyerah dan bersepakat saling melupakan. Keadaan yang miris, dan itulah realitas yang sering terjadi dalam kehidupan sosial.

Dibalik itu semua, merancang pernikahan butuh beberapa persiapan, meski memang benar pernikahan yang didasari oleh cinta memang indah. Lalu apa saja yang harus dipersiapkan oleh pemuda pemudi yang sudah matang usia dan hendak berencana menikah?

Kesiapan Mental

Kita tahu bahwa menikah memang indah, namun pernah bertanya pada diri sendiri? sudah siapkah menjadi pasangan? Menjadi istri atau suami, dan sekaligus menjadi calon ibu dan ayah.

Hal yang lebih urgen untuk dimatangkan ternyata kesiapan mental diri. Tentu kita semua sudah pernah membayangkan keindahan setelah menikah. Hubungan keintiman yang dihalalkan oleh syariat agama dan hukum. Namun realitasnya tidak hanya itu. Kelak akan memiliki keturunan, segala hal yang terjadi butuh tanggung jawab penuh. Maka jangan sampai diantara kita tidak siap di tengah jalan terhadap tanggung jawab baru membesarkan anak buah hati kita sendiri.

Sebelum melangsungkan pernikahan, beberapa hal perlu dibicarakan dengan pasangan. Perlu melakukan sharing untuk mengetahui pendapat masing-masing tentang pernikahan dan tanggung jawab masing-masing. Lebih-lebih sebagai seorang perempuan dimana lingkungan masih memandang tabu bagi perempuan karir meski keadaan zaman sudah berubah di lingkungan kota, berbeda dengan keadaan di pedesaan, baikkah atau sebaliknya? Lalu apa yang harus dilakukan?

Masing-masing kita memang memimpikan hubungan yang langgeng atau bahagia tanpa adanya masalah, bukan? Tidak salah jika mendiskusikannya dengan pasangan masing-masing. Meminimalisir munculnya masalah di suatu hubungan merupakan langkah tepat untuk dilakukan oleh masing-masing.

Finansial, Perlukah?

Sebagian orang menganggap kematangan finansial penting dipersiapkan sebelum menikah, sebagian lainnya juga menganggap bahwa finansial bisa dipersiapkan sembari berproses. Artinya tidak salah jika memutuskan menikah (melegalkan hubungan) terlebih dahulu.

Lalu bagaimana dalam syariat Islam? Agama Islam memandang baik hubungan pernikahan. Syarat dan rukun dalam pernikahan juga perlu diperhatikan. Adanya wali, keikhlasan pasangan, saksi, dan ijab qobul.

Tentang Kesiapan Finansial, jika memang sudah mampu maka diharuskan untuk menikah. Namun jika belum mampu dan nafsu mendesak syariat menganjurkan untuk berpuasa. Finansial dianggap penting sebab untuk membiayai kebutuhan rumah tangga diperlukan ekonomi, misal mengisi ulang tabung Gas, biaya token listrik, membeli beras dan kebutuhan primer lainnya.

Ada pula yang bersepakat bahwa finansial bisa diusahakan berdua, dengan kesederhanaan. Inilah pentingnya penerimaan masing-masing pasangan. Tuntutan kebutuhan dan pengelolaan finansial dalam kehidupan rumah tangga.

Sebelum bersepakat untuk membina rumah tangga bersama, maka penting berdiskusi dengan pasangan tentang tanggung jawab diri masing-masing, apa yang harus apa yang urgen apa saja yang tidak harus diperbolehkan. karena masing-masing pasangan memiliki prinsip hidup berbeda, namun dengan penerimaan masing-masing hubungan akan bertahan. Pengelolaan stres, dan kesiapan mental menjadi dasar utama dalam membangun hubungan baik masing-masing pasangan. Masing-masing pasangan juga penting melakukan parenting sebelum ia menjadi orang tua. Karena menjadi orang tua membutuhkan kesiapan yang lebih sulit lagi, dan hal itu harus didiskusikan bersama. Memperbaiki komunikasi dan saling terbuka satu sama lain juga merupakan kuncu hubungan yang bahagia.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.