Mendidik Anak dengan Meneladani Nabi Muhammad

Panggonmaca-Beberapa waktu lalu sempat viral salah satu cuitan akun Twitter yang mengungkap pembunuhan seorang Ibu oleh anak kandungnya dengan alasan pengalaman mental yang membuat anak tertekan karena metode pendidikan orang tua. Sebaliknya, ada pula kekerasan seksual yang dilakukan oleh orang tua kepada anak hingga memunculkan trauma mendalam pada diri mereka. Semua itu merupakan kasus kriminalitas yang cukup mengejutkan bagi setiap telinga yang mendengar. Bagaimana bisa terjadi hal demikian?

Anak pada hakikatnya merupakan titipan Tuhan. Oleh karena itu sebagaimana titipan, maka perlu memperlakukannya dengan istimewa, caranya dengan merawat, membimbing, mendidik, serta memberikan kasih sayang yang layak didapatkan oleh anak.

Read More

Bila mendapati seorang anak yang pemurung, penakut atau bahkan pendendam, bisa ditelusuri, ada apakah gerangan dibalik sikap mereka ini? Peran keluarga menjadi tanda tanya besar yang menjadi sebab dan akibat dari setiap kondisi pada anak.

Pada hakikatnya, keluarga adalah inti dari pembentukan karakter anak. Hebat atau tidaknya, cerdas atau tidaknya seorang anak, dalam berbagai kondisi apapun bila ingin memiliki anak yang tumbuh dengan baik sebagaimana harapan orang tua, maka penting melihat kembali cara mendidik mereka, apakah sudah sesuai atau tidak? Oleh karena itu penting memiliki wawasan dan menerapkan metode pendidikan anak dengan meneladani salah satu tokoh seperti nabi Muhammad SAW.

Konsep pendidikan anak dalam perspektif Nabi Muhammad tidak jauh dari nilai-nilai syariat Islam yang bersumber pada al Quran dan Hadits.

Merujuk pada kajian Kamisah dan Herawati (2019) bahwa dalam mendidik anak ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan oleh orang tua, di antaranya: Orang tua hendaknya menjadi teladan yang baik bagi anak dengan mencontohkan hal-hal yang positif, mencari waktu yang tepat untuk memberikan pengarahan kepada anak, bersikap adil kepada anak-anak termasuk dalam hal pemberian kasih sayang, menunaikan hak anak untuk mendapat perlindungan dan pendidikan, mendoakan anak dalam kebaikan, memberikan hukuman yang tidak mencederai mental anak, dan mendukung tumbuh kembang anak agar berproses lebih baik.

Para orang tua dapat menerapkan beberapa alternatif metode mendidik anak sebagaimana di atas. Satu hal yang sangat penting kita sadari dalam dalam pendidikan anak yakni kemampuan menyentuh dan mempengaruhi jiwa anak untuk melakukan hal kebaikan.

Dalam hal ini memberikan reward dan hukuman menjadi bagian penting untuk diterapkan. Rasulullah pernah bersabda “Perintahkanlah anak-anakmu untuk mengerjakan shalat pada usia tujuh tahun, pukullah mereka bila meninggalkan shalat pada usia 10 tahun.”

Memukul dalam sabda Nabi di atas bukan dengan maksud memukul menggunakan tangan disertai tenaga yang menimbulkan rasa sakit. Memukul berarti memberi hukuman untuk menghentikan perilaku negatif agar tidak diulangi.

Berdasarkan kajian Fajriah (2019) bahwa memberikan hukuman pada anak ada banyak cara yang tujuannya yakni menimbulkan efek jera. Dalam hal ini bisa dipraktikkan dengan menggunakan ucapan yang tegas tanpa melakukan kekerasan fisik.

Demikian juga bila ingin memberikan reward atas pencapaian anak. Memberikan reward merupakan bagian hal yang penting dilakukan oleh orang tua. Caranya dengan memberikan pujian bila anak meraih prestasi, bisa dalam bentuk hadiah atau kata-kata sanjungan yang dapat membuat anak semakin bersemangat untuk belajar dan memperoleh prestasi di masa selanjutnya.

Metode reward dan hukuman merupakan bagian penting untuk diterapkan oleh orang tua dengan memperhatikan beberapa ketentuannya. Semisal umur anak dan alasan kesalahannya. Sebagaimana Sabda Nabi di atas yakni mencapai batas umur 10 tahun, karena pada masa tersebut anak mencapai batas umur baligh. Artinya anak mencapai batas usia yang memiliki kemampuan memahami.

Mendidik anak dengan meneladani Akhlak Nabi, karena Nabi Muhammad merupakan panutan umat Islam, yang akhlaknya sesuai dengan syariat Islam. Seluruh sikap Nabi adalah implementasi dari nilai-nilai Al Qur’an.

Metode pendidikan anak yang pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad, di antaranya: Mengajarkan shalat, mengajak anak ke masjid dan ke majlis, melatih anak berpuasa, dan mengajarkan haji. Dari beberapa cara tersebut, jika kita aplikasikan ke dalam konteks saat ini, bisa dengan mengajak anak pada tempat-tempat atau lingkungan yang baik semisal ke pengajian, tempat seminar, dan lainnya.

Bilamana orang tua memiliki jabatan tertentu, jangan biarkan anak ditinggal di rumah kepada orang lain. Ajak anak agar mereka mengerti lingkungan tempat orang tua mereka bekerja, semisal ke kantor, sekolah, ke kampus atau ke pesantren. Mengapa hal ini menjadi keharusan? Anak memiliki daya ingat yang kuat untuk mereka setiap aktivitas di lingkungannya. Inilah salah satu alasan mengapa anak harus mendapat lingkungan yang baik karena memengaruhi tumbuh kembangnya.

Bila orang tua ingin anak tumbuh dengan baik, maka ajarkan kebaikan sejak dini, hindari memberikan hukuman fisik pada anak yang berujung pada kekerasan fisik dan dapat memengaruhi mental mereka. Bila anak diajarakan kekerasan, mereka akan meniru praktik tersebut, begitu pula bila diajarkan kebaikan, mereka juga akan meniru apa yang mereka dapatkan di lingkunganya.

Keluarga adalah lingkungan pertama anak mendapatkan nilai-nilai hidup, perilaku dan pengetahuan tentang segala hal termasuk baik dan buruknya. Maka benar bila menerapkan metode pendidikan anak yang tepat  akan berimplikasi pada pertumbuhan mereka.

Sumber:

Kamisah dan Herawati, “Mendidik Anak Ala Rasulullah,” Journal of Education Science, 5 (1), April, 2019.

Fajriah, “ Menghukum Anak Sesuai Sunnah Nabi SAW,” Pionir: Jurnal Pendidikan, vol.8, no.2, 2019.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.