Realitas Tujuan Bersosial Media

Akhir-akhir ini kita sering bertemu dengan story mayoritas orang di sosial media yang menunjukkan pencapaian diri, hingga kemudian segala aktivitasnya. Bahkan ada pula yang curhat dan sambat tentang masalah pribadinya. Sepertinya media sosial merupakan tempat yang aman bagi mereka untuk berkeluh kesah dan membagikan cerita kepada teman mutualnya.

Seseorang menjadi lebih asyik bersosial media dibanding bersosial di dunia nyata, tak jarang mereka banyak diantara manusia kini menjadi kurang nyaman berkomunikasi. Mereka juga mulai asyik dengan gadget dan berlama-lama meluangkan waktu di sosial media masing-masing. Bahkan yang dekat menjadi sangat jauh, yang jauh menjadi dekat,

Fenomena ini seperti mulai menggeser silaturrahim luring menjadi silaturrahim daring. gaya komunikasi langsung tergeser dengan komunikasi virtual. Hingga akhirnya hal ini menjadi kebiasaan dan orang menjadi kurang bersosial atau ia menjadi lebih introvert dibanding aktif di ranah sosial dengan saling bertegur sapa.

Sejak lahirnya internet dan perkembangannya yang demikian pesat, mulai banyak tercipta platform-platform yang memudahkan kinerja manusia, hingga menyediakan platform media sosial di dunia maya. Namun apakah itu baik?

Sejauh ini mungkin baik-baik saja, tetapi lambat laun berpotensi mengerdilkan kemampuan bersosial kita di lingkungan sekitar. Bahkan sempat juga kita merasakan acara reuni namun masing-masing tengah asyik bersosial media meluangkan banyak waktu dengan gadget pribadinya.

Tentang sejarah munculnya media sosial yang cukup relate dengan kemunculan internet pertama kali di dunia. Dilansir oleh Detik.com Tulisan dari Rizky Wika tahun 2019 lalu, awal mula internet lebih tepatnya tahun 1969 merupakan proyek dari peneliti Universitas California, Amerika Serikat. Sebuah proyek dari ARPANET (Advanced Research Project Agency Network) yang dibentuk oleh Departemen Pertahanan di Amerika.

Seiring perkembangannya yang demikian pesat, dari tahun ke tahun hingga kemudian lahirlah sebuah platform media komunikasi. Saat ini kita kenal seperti platform Facebook, Twitter, Instagram, Line, Telegram, dan banyak lainnya. Media sosial memiliki pengaruh signifikan terhadap kehidupan manusia.

Awal mulanya, media sosial merupakan media komunikasi dunia maya, tempat memperbanyak teman dan mutual. Lama-lama berkembang menjadi ajang menyampaikan kebebasan menyuarakan haknya dengan memposting bagian dari kepribadiannya. Dengan niat untuk memperlihatkan kemampuan diri.

Memperlihatkan kebaikan diri hingga kesuksesannya. Tak jarang jika yang mereka inginkan adalah terlihat sukses dalam rekognisi masyarakat. Aktif di sosial media saat ini menjadi bagian dalam hidup mereka, bahkan menjadi kebutuhan primer. Jadi tidak hanya sandang dan pangan, Bermedsos juga bagian dari keseharian yang wajib. Bahkan hampir ketergantungan.

Kajian dari Karman (2014) yang dimuat di Jurnal Studi Komunikasi dan Media, bahwa senyatanya kita yang aktif di media sosial merupakan partisipan dalam jejaring sosial, tak ubahnya bagaikan pekerja yang tidak digaji. Postingan kita merupakan ladang pemasukan pundi-pundi para elit pemegang saham media sosial.

Meski nyatanya memang benar tujuan media sosial merupakan alat komunikasi canggih yang dapat mendekatkan kenalan keluarga yang jauh jaraknya. Bertukar sapa dan saling menanyakan kabar tanpa harus mengirim surat dalam tempo pengantaran yang cukup lama.

Kehadiran media sosial memiliki dampak positif. Selain keuntungan, di balik layar dalam realitas adanya, kita tidak tahu bahwa kita merupakan partisipan gratis. Dallas Smythe dan Eileen Meehan (1980) menegaskan melalui kajiannya bahwa masyarakat dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan media, terutama jika mereka meluangkan banyak waktu untuk berselancar di media sosial.

Menariknya kita tidak menyadari hal ini, kita senang berselancar tanpa berpikir dengan posting video, foto, dan lainnya, kita menjadi pekerja yang tidak digaji. Miris sekali bukan? Tapi faktanya, mau tidak mau kita memang membutuhkan media sosial, terutama bagi usaha bisnis untuk keperluan marketing. Hal ini bisa dibilang mutualisme yang saling menguntungkan.

Sejauh ini, kita teramat puas bersosial media, pasalnya kita sering sharing  pendapat, ladang bisnis, diskusi, nasihat, dan motivasi dengan orang lain. Dari situlah para pemilik media mendapat kucuran dana apalagi jika website sudah ACC Google AdSense. 

Namun, hal urgen yang ingin ditegaskan dari tulisan ini, yakni mengembalikan makna dan tujuan media sosial diciptakan, bahwa media sosial merupakan platform untuk berkomunikasi dan saling memberi dampak positif. Namun, kehidupan dunia maya ini sebetulnya hanya hiburan dan bersifat belaka.

Kebebasan berekspresi sering menjadikan diri lupa bahwa sosial media kali ini bukan ruang curhat masalah pribadi. Kehidupan dunia media sosial yang menyita waktu produktif kita dan waktu bersama orang terdekat. Akhirnya potensi introvert dalam diri semakin terfasilitasi, hingga lebih memilih berselancar di dunia maya dibanding melatih komunikasi dengan orang lain (bersosial).

Sejalan dengan pendapat Nasrullah (2015) bahwa perkembangan media sosial memiliki karakteristik, sebagai informasi, network, simulasi, arsip, dan interaksi. Perkembangan saat ini kebanyakan sebagai konten expose diri dan kehidupan pribadi untuk dibagikan ke orang lain (ajang pamer kegiatan). Apakah berdampak?

Pamer kehidupan pribadi di sosial media selalu diisi dengan hal baik, seperti kesuksesan, pencapaian diri. Maka tidak jarang tujuan bersosial media untuk komunikasi sering membuat diri menjadi sering membandingkan pencapaian diri dengan orang lain.

Sosial Media dipenuhi dengan postingan pamer kesuksesan pribadi, hingga tidak jarang banyak pemuda menginginkan segera terihat sukses dan cantik atau tampan di media sosial dibanding memeprlihatkan realitas aslinya.

Arief Hidayat dalam esainya di Detik.com (2022) berusaha menjernihkan pandangan tentang sisi gelap imajinasi ‘sukses’ yang perlu ditelaah ulang kepada masyarakat. Fenomena Crazy Rich yang beberapa waktu lalu menghebohkan publik tentang realitas di balik kekayaannya(baca: sukses) secara instan itu. Bahwa asumsi sukses tidak selamanya tentang materi.

Demikian cukup relate dengan sajian informasi kesuksesan yang ditampilkan di media sosial tentang kehidupan glamour para Crazy Rich. Sajian toxic terhadap diri semakin gencar membombardir mental hingga akhirnya kita pun menjadi ikut-ikutan, pengen cepet kaya secara instan. Itu mahal sekali tanpa melalui proses planning, aplikasi, monitoring, dan evaluasi.

Sudah saatnya kita mengevaluasi diri tujuan bersosial media. Wasting time berjam-jam di depan layar hingga lupa waktu banyak kegiatan yang harus dilakukan di dunia nyata. Konsumsi informasi dari media sosial perlu pembatasan dalam penggunaannya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.