Mendidikan Anak dalam Kisah Luqman

Panggonmaca-Orang tua mana yang tidak menginginkan anak yang berbudi pekerti baik? Bagus akhlaknya dan baik dalam kacamata sosial serta tidak melakukan tindakan yang menyimpang agama.

Mengasuh anak itu katanya susah-susah gampang. Mendidik anak dalam Islam bisa menjadi salah satu alternatif yang bisa dipraktikkan oleh para orang tua. Namun, bagaimana mendidik anak yang dalam kisah Lukman?

Read More

Lukman merupakan salah satu tokoh yang sangat istimewa, karena namanya menjadi salah satu surat dalam firman Tuhan di dalam Al-Qur’an. Caranya mendidik anak dapat menjadi inspiratif bagi orang tua masa kini terutama calon orang tua yang mendambakan keturunan.

Memiliki momongan baik laki-laki maupun perempuan merupakan anugerah Tuhan yang harus disyukuri. Kehadiran anak merupakan titipan Tuhan yang harus dijaga dan diperlakukan dengan baik. Sebagaimana firman Allah dalam QS. al-Kahfi ayat 46;

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi soleh dan solehah adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”

Ayat ini menegaskan posisi anak yakni sebagai perhiasan yang harus dijaga oleh orang tua dan keluarganya. Sebagaimana perhiasan, maka perlakukan anak dengan istimewa dan dalam penjagaan atau didikan yang baik yang mengarahkannya bertumbuh dan berkembang dengan mencintai Allah dan Rasulullah. Mencintai agama Islam dan budaya atau lingkungan sosial serta dapat hidup toleransi dalam perbedaan, sebagaimana tujuan Islam dihadirkan di tengah kehidupan masyarakat.

  1. Mendidik dengan lemah lembut

Dalam Kisah Luqman, ia memperlakukan anak atau mendidik anak dengan cara yang lemah lembut dan santun (Aisyah, 2016). Hal ini terbukti dalam firman QS. Lukman ayat 17;

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah SWT).”

Pada ayat tersebut, Lukman memanggil anaknya dengan panggilan “ya bunayya, aqimu al-shalat…!” kalimat yang cukup santun dalam mengasuh anak dan memerintahkan anak untuk shalat. Perilaku lembut dan santun tersebut dapat membuat anak patuh.

  1. Mendidik anak dengan sabar

Lukman adalah orang tua yang tawadhu dan mencintai Tuhan-Nya (Budiyono, 2019). Oleh karena itu, ia mendidikan anak dengan sabar dan mengajarkannya kesabaran. Sebagaimana dalam firman QS. Lukman ayat 16;

“Lukman berkata, “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu, di langit atau di bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”

Dari ayat tersebut, maksudnya adalah seberapapun perbuatan baik yang dilakukan seorang hamba karena ketaatannya, maka Allah akan tetap membalas kebaikannya dengan kebaikan lainnya. Manusia perlu bersabar dalam taat pada Allah.

Satu hal yang terpenting, jika menginginkan keturunan yang berperilaku baik, terlebih dahulu orang tua harus membenahi diri agar menjadi baik. Karena pengetahuan dan perangai orang tua dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak.

Sumber 

Aisyah Muawiyah, “Pola Asuh Orang Tua dalam Pembentukan Karakter Anak (Kajian SUrat Luqman ayat 17),” Jurnal Al-Mabhats Vol.1, No.1, 2016.

Arif Budiyono, “Pola Asuh Orang Tua terhadap Anak dalam Al-Quran (Kajian Kisah Lukman),” MIYAH: Jurnal Studi Islam, vol. 15, No.2, 2019

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.