Komunitas Pemulung Sampah Gaul, Wadah Kreasi Siswa Ramah Lingkungan

istockphoto

Komunitas PSG atau pemulung Sampah Gaul di Pesantren Annuqayah  resmi didirikan pada tanggal 22 April 2008 bertepatan di sekolah SMA 3 Annuqayah. Penggagasnya serta pendamping komunitas tersebut adalah Kiai Muhammad Musthafa. Adapun pembinanya, Ibu Mus’idah Amin yang sampai sekarang masih tetap menjadi pembina di komunitas tersebut. 

Lembaga pendidikan SMA 3 Annuqayah Ini dulunya panas dan gersang hanya terdapat sedikit tumbuhan, itupun hampir tidak terawat. Keadaan tersebut menimbulkan kegelisahan agar lingkungan sekolah menjadi hijau tapi harus dengan rasa kepemilikan dan ketertarikan. maka dibangunlah komunitas Pemulung Sampah Gaul yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan. 

Kini halaman SMA 3 menjadi hijau dan bebas plastik. Bisa dikatakan bahwa sekolah SMA 3 adalah sekolah yang ramah lingkungan. Di sana ada istilah polisi sampah yang bertugas memantau siswi-siswi dan seluruh tenaga kependidikan barangkali dari mereka ada yang membeli makanan yang wadahnya dari plastik maupun botol mineral. Ada juga yang menjaga di bank sampah atau yang disebut dengan TP (Tempat Pembuangan Akhir). 

Sampah-sampah dipilah dalam tiga macam, sampah organik, sampah anorganik, dan sampah botol. Di sanalah pengurus PSG akan mendaur ulang dan  menjadi kerajinan Tas, dompet, pot bunga, dan banyak lainnya.

Oleh karena itu, siswi-siswi PSG juga  dibagi menjadi tiga tim yaitu tim plastik, tim pupuk (pupuk tersebut dibuat sendiri oleh pengurus PSG yang didampingi oleh orang yang ahli di bidang tersebut), dan yang ketiga tim pangan lokal (tim tersebut adalah pengurus PSG yang bertugas membuat makanan lokal yang ramah lingkungan (makanan dan minuman tradisional, yang menggunakan wadah bukan dari plastik). 

Pada awalnya berdirinya komunitas PSG ini, banyak menuai respons negatif dari berbagai kalangan termasuk masyarakat karena aktif dengan sampah yang notabene dianggap sebagai barang bekas yang tidak menghasilkan. Dengan berbekal muka tebal, seluruh anggota PSG tidak menyerah  akan hal itu, mereka yakin apa yang mereka perbuat memberi dampak yang baik bagi lingkungan, hanya saja hal ini jarang dilirik oleh masyarakat. Para siswa  membuktikan bahwa mereka bisa menjadikan sekolah SMA 3 ini menjadi sekolah yang indah tanpa adanya plastik.

Meski selama ini Pemulung Sampah Gaul (PSG)  SMA 3 Annuqayah belum pernah mendapat  apresiasi dari Pemkab, komunitas tersebut akhirnya mendapat bantuan berupa mesin penjahit dari Kemendes, mesin tersebut  digunakan untuk menjahit sampah plastik menjadi produk-produk yang bernilai jual. 

PSG juga mengadakan kegiatan seperti kegiatan tahunan yakni kemah lingkungan, diselenggarakan di Bukit Assalam. Tempat tersebut adalah tempat yang sangat sejuk di daerah perbukitan, jadi cocok untuk bercocok tanam. Bukit Assalam adalah pedesaan yang sangat hijau merupakan salah satu tempat incaran para investor yang ingin mengambil Sumber Daya Alam di sana karena dinilai potensial. 

Secara umum, masayarakat di sekitar Assalam pekerjaannya adalah petani, tanah di sana sangat subur, tetapi di desa tersebut kekurangan air bersih. Suatu hal yang disayangkan, padahal air adalah kunci kehidupan yang mutlak diperlukan. Di Assalam airnya berwarna kecoklatan dan bau besi. 

Banyaknya kegiatan menyebabkan setiap orang yang pergi ke Assalam merasa betah.  Tujuan didirikannya komunitas PSG ini tidak lain untuk kegiatan belajar yang sangat penting untuk mendekatkan diri kepada alam. Bagaimana cara seseorang untuk melindungi alam yang kita tempati.Kegiatannya memang di luar jam sekolah, tetapi dapat diterapkan oleh sekolah maupun di dalam kelas.

Kemandirian yang mereka bangun sendiri membuat dirinya sangat tangguh dan membuat orang mempercayai mereka memegang tanggung jawab besar. Awal yang tidak mulus karena perlu membangun kepercayaan seseorang dari awal, mengubah pemikiran seseorang yang dulunya memang  sempit. 

Siswi SMA 3 Annuqayah oleh Kiai M.Musthafa diarahkan untuk aksi nyata, seperti turun langsung dengan berkegiatan. Berdasarkan salah satu bacaan yang saya baca beliau menyampaikan bahwa ada suatu fokus seperti nol plastik.Untuk ke sana langkah-langkah apa yang perlu dilakukan?

Saya pribadi, sekarang menjabat sebagai Direktur Bank Sampah sangat mengakui bahwa SMA 3 saat ini hampir mendekati nol plastik. dengan mengetatkan sistem maupun peraturan dari organisasi ini sangatlah efektif yang kebelakangnya nanti akan berdampak pada meningkatnya kesadaran siswa arti penting menjaga dan melestarikan lingkungan sekitar.

Sistem pembelajaran SMA 3  ANNUQAYAH juga tidak luput dari Lingkungan. Dari besarnya perhatian institusi ada jadwal mata pembelajaran tambahan yaitu PLH (Pendidikan Lingkungan Hidup). 

Inti dari Opini saya ini, mengajak serta mengenalkan organisasi PSG, kalian para pembaca agar bisa berpartisipasi aktif terhadap kegiatan tersebut. PSG ini juga bisa masuk pada pembahasan Sosiologi. Mengapa demikian ? Yang pernah saya pelajari di kelas XII IPS, lingkungan ini masuk kepada faktor-faktor sosial di mana menurut Gillin bahwa hubungan sosial tentang lingkungan juga penting dalam kehidupan, ”Saya yang dipengaruhi lingkungan, apakah lingkungan yang dipengaruhi saya,” dan hal itulah yang menjadi rumus mutlak dari ilmu Sosiologi di mana sampah dan bumi adalah bagian dari diri kita.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.