Islam dan Dunia Barat: Harus Lebih Waspada!

istockphoto

Islam dan dunia barat dalam perkembangan studi keislaman menjadi sangat luas menjangkau hingga dunia barat. Islam menjadi objek studi dunia barat seperti di beberapa universitas terkemuka banyak pengkajian dan pembelajaran mengenai studi agama. Ketertarikan dunia barat mengenai studi tentang agama khususnya Islam dimulai pasca tragedi 9/11. 

Islamofobia melatarbelakangi para sarjana barat tersebut mempelajari Islam dan timur tengah. Banyaknya spekulasi bersamaan dengan praduga sementara menjadikan sarjana barat tertarik dengan mempelajari Islam dan Timur Tengah secara total. Pandangan barat kepada Timur Tengah sangat didominasi oleh kesarjanaan barat melalui berbagai disiplin ilmu kemudian diterjemahkan dalam bahasa mereka. 

Pemikir Islam klasik memiliki peran yang sangat signifikan dalam upaya mengumpulkan teks-teks kuno untuk dikaji dalam pemahaman syariat Islam. Namun jika kita melihat jauh ke belakang. 

Upaya tersebut dibarengi bersama dengan pembebasan kota-kota oleh para khalifah Islam sampai ke penjuru dunia barat. Keikutsertaan pemerintah dalam upaya pengorganisasian berbuah manis. Banyak wilayah pembebas Islam mencetak generasi-generasi emas dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan. 

Upaya Meneguhkan Ideologi

Seiring dengan berjalannya waktu banyak pemerintahan Islam yang sudah mencapai kejayaannya justru hancur lebur diakibatkan permasalahan internal. Akibatnya, banyak negara yang akhirnya memilih untuk memerdekakan diri atau terlepas dari dinasti pemerintahan Islam. 

Kemunculan sentimen negatif terhadap Islam merupakan sesuatu yang sudah terjadi dalam beberapa abad sebelumnya, dimulai dari semenjak Islam muncul di peradaban. Sudah sejak lama dunia Islam sebagai objek studi antara timur dan barat, hingga kemudian berkembang dan menjadi agama yang besar dan pernah menguasai dunia serta menjadikan dunia barat takut akan hal tersebut apabila terulang kembali. 

Siasat konflik yang terjadi di Timur Tengah tidak terlepas dari upaya dunia barat untuk menguasai timur tengah dalam berbagai bidang. Konflik tersebut terbagi dalam tiga bagian utama; Ekonomi, sosial-politik, dan ideologi (Nina, 2017).

Para ahli sosiologi konflik, melihat gejala-gejala sosial, termasuk Tindakan-tindakan sosial manusia, sebagai hasil dari konflik (Parsudi, 2006). konflik berasal dari hal yang bersifat abstrak, namun kemudian konflik dapat berubah menjadi nyata berupa benturan fisik. Hal tersebut selaras seperti apa yang dilakukan oleh dunia barat terhadap dunia muslim yaitu Timur Tengah. 

Konflik Timur Tengah adalah konflik yang bersifat berkepanjangan mulai dari ekonomi, sosial-politik, dan ideologi. Bagi negara yang berkepentingan akan melakukan segala cara agar masyarakat Timur Tengah dapat dikuasai dalam bidang ekonomi, sosial-politik dan ideologi. 

Agenda tersebut adalah upaya dalam hal pengerahan sumber daya alam minyak bumi melimpah yang dimiliki oleh tanah Timur Tengah. Hampir setiap negara di kawasan Timur Tengah memiliki komoditi minyak mulai dari Arab Saudi, Irak hingga negara-negara teluk seperti Uni Emirat Arab, Kuwait maupun Qatar. 

Arti Timur Tengah dalam kancah internasional menjadi jauh lebih besar dengan adanya minyak tersebut, dikarenakan dalam proyek industri modern akan memerlukan minyak.

Sumber daya alam tersebut sangat mempengaruhi kebijakan politik luar negeri. Kepemilikan sumber minyak yang akan dikuasai oleh negara Barat terhadap dunia Timur Tengah akan menjadikan negara adidaya menjadi terkuat di dunia dalam hal militer serta sebagai posisi sentral dalam bidang transportasi (Daljouni,1991).  Geopolitik dibutuhkan oleh setiap negara untuk memperkuat posisinya terhadap negara lain. 

Banyak dari negara-negara di dunia ingin memiliki pengakuan internasional atas ke adikuasa negaranya. Pameran persenjataan serta latihan militer gabungan adalah cara yang paling ampuh untuk suatu negara menunjukan taring nya kepada negara lain agar disegani. Selain itu kekuatan dalam hal ekonomi selalu dinanti dan dipuja oleh negara-negara barat sebagai bukti kemajuan yang mereka miliki berdasarkan globalisasi.

Studi tentang agama khususnya Islam memiliki ruang lingkup yang sangat luas bagi para cendikiawan hal tersebut terlihat bagaimana seorang yang non-muslim mempelajari agama Islam. Non-muslim yang mempelajari keislaman lebih cenderung melihat sejarah Islam sebagai pengetahuan semata. 

Berbeda dari penganut mereka yang memiliki tujuan untuk mencapai pengamalan suatu ritual keagamaan. Secara umum, pandangan teoritis mengenai tujuan studi Islam. Pandangan teoretis yang pertama berorientasi kemasyarakatan, yaitu pandangan yang menganggap pendidikan sebagai sarana utama dalam menciptakan masyarakat yang baik, baik berupa sistem pemerintahan demokratis, oligarki, maupun monarkis (Imam Mawardi, 2012).

Oleh sebab itu, banyak sekali sarjana muslim memiliki pandangan yang buruk terhadap para oknum-oknum dunia barat dalam berbagai hal. Kita sebut saja dalam hal ideologi suatu bidang akademisi yang melahirkan paranoid kepada bangsa barat yang selalu memiliki tujuan terselubung. 

Hal tersebut memiliki dampak yang merugikan bagi dunia akademisi Islam. Studi tentang agama menjadikan para pemikir barat sudah mengganti cara penjarahan mereka yang mula-mula notabene melalui bidang politik, ekonomi sehingga meledaknya peperangan. 

Namun, dalam hal ini sarjana muslim melihat titik ke belakang bagaimana sebenarnya para cendikiawan barat ingin menghancurkan Islam secara ideologi, karena dalam beberapa literatur menyebutkan Islam yang muncul di peradaban modern saat sekarang ini menganut paham Islam secara simbolis. 

Secara teori pemahaman Islam secara simbolis akan sangat mudah untuk dihancurkan karena pondasi keislaman mereka tidak sekuat pada masa islam klasik. Penghancuran tersebut tidak serta merta secara terang-terangan, namun agenda mereka mulai dari dalam diri kaum muslimin. 

Dengan begitu, Islam akan mudah dihancurkan apabila dasar mereka sudah digoyahkan oleh para pemikir barat yang mengkaji dunia timur tengah. Sebagian pemikir barat menganggap Islam sudah saatnya melihat kedepan bagaimana suatu modernitas mengubah pandangan tradisional yang tertutup menjadi pandangan terbuka menjangkau nilai kemanusiaan. Pemahaman ini sungguh berbahaya apabila disalurkan kepada generasi penerus Islam.

Sumber

Imam Mawardi, “Perbandingan Model Pendekatan Studi Islam di Timur Tengah Dan Barat”, Jurnal EDUKASIA, vol 9:12, Juli-Desember 2012.

Daljoeni, Dasar-dasar Geografi Politik. Bandung: Citra Aditya Bakti, 1991.

Parsudi Suparlan, “Konflik Sosial dan Alternatif Pemecahannya”, Jurnal Antropologi Indonesia, vol 30:2, 2006.

Nilna Indriana, “Pemetaan Konflik di Timur Tengah: Tinjauan Geografi Politik”, Jurnal Humaniora, vol 1:1, Februari 2017.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *